Thursday, 20 September 2012

GIGO

Ada suatu ungkapan yang cukup menarik yang saya kutip dari sebuah buku (maaf lupa judulnya) "Garbage In Garbage Out" (GIGO), yang maknanya jika pikiran kita mengkonsumsi sampah maka yang keluar adalah sampah. Senada dengan guyonan teman saya ketika bersepeda di kompleks UNRI beberapa waktu yang lalu " Klo teko itu isinya teh, ya yang keluar tetap teh ngak mungkin sirrup"
Dua statemen ini mengingatkanku pada aktivitasku akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? akhir-akhir ini banyak sekali informasi-informasi sampah yang mampir ke kepalaku. mmm... aku mengingat-ingat, kemaren sama teman-teman kos nonton sinetron Intan memang sinetronnya lucu sih tapi yah tau sendirilah jalan ceritanya. Tidak lebih dari permasalahan pacaran, hamil diluar nikah, kebencian dsb. mm... kemarennya mendengarin teman-teman ngrumpi, miskipun nggak ikut nimbrung tapi kan apa yang mereka bicarain tetap aja masuk ke kepala ini.
belum lagi berbagai informasi negatif lain yang diperoleh sepanjang hari baik sengaja maupun tak sengaja. Info-info postif mmmm.. hampir minim aku peroleh akhir-akhir ini. Ikut kajian pun sering telat.
Aku jadi berpikir mungkin ini yang menyebabkan daya analisaku menurun, cepat marah, mudah tersinggung dan sering uring-uringan sendiri. Kurang produktif dan waktu lebih banyak terbuang sia-sia untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.
Aku kembali teringat pada sebuah ungkapan bijak yang sungguh indah namun mengandung makna yang sangat dalam."Pikiran picik membicarakan orang, pikiran biasa membicarakan kejadian, namun pikiran yang besar akan membicarakan gagasan".
ya... mungkin pikiranku masih tergolong pikiran picik atau hanya biasa, sehingga untuk menciptakan gagasan-gagasan dan ide-ide brilian terasa sangat sulit sekali. Hmmm Astagfirullahal adhim ampunilah ya Allah kedholiman hamba terhadap diri hamba sendiri.
Alangkah sayangnya... waktu-waktuku hanya habis untuk memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Alangkah sayangnya pikiranku dipenuhi oleh sampah-sampah yang tak berguna.

Ya Allah terangilah hati dengan cahaya, pikiranku dengan cahaya dan jadikanlah aku cahaya.
===
Repost tulisan lama dari multiply
Dalam rangka boyongan dari www.barlanti.multiply.com

Warisan Permata dari Ummu Ismail

Memasuki bulan dzulhijjah memori kita (ummat muslim) selalu diingatkan pada tiga sosok manusia mulia yang telah mengukir sejarah emas dalam peradapan ummat manusia. Dimana ritual ibadah haji yang dilaksanakan oleh ummat islam saat ini merupakan refleksi dari perjuangan mereka. Banyak hal yang dapat kita ambil ibroh dari perjalanan kehidupan mereka. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Ismail dan Siti hajar.
Pada kesempatan ini saya mencoba menelusuri sebagian kecil dari jejak perjalanan hidup sang ibunda Siti Hajar. Menekuni tapak demi tapak kisah hidup sang mujahidah yang mulia, dan mengukir serpihan-serpihan keteladanan dari pribadi beliau nan agung. Mencoba menemukan butiran permata dari segunung hikmah yang berharga dari Siti Hajar perempuan mulia, yang baik budi pekertinya serta lurus dan tidak pernah berhati bengkok.

Ketinggian Tawakalnya Kepada Allah
Ketika akan ditinggal berdua dengan anaknya Ismail ditengah padang pasir yang tandus, jiwa kewanitaannya yang senantiasa mengharapkan perlindungan dan perhatian dari seorang suami sempat berontak. Dia mencoba menahan sang suami (Nabi Ibrahim) agar jangan meninggalkan mereka berdua. Baru saja Ibrahim berangkat meninggalkan mereka, Hajar segera mengikutinya dari belakang dan memegang tali kekang unta yang dikendarai oleh Ibrahim dan berkata, “Ya Ibrahim! Ke manakah engkau pergi?, kenapa kami ditinggalkan di sini? Di tempat yang menakutkan ini?
Hajar berharap agar Ibrahim menaruh rasa kasihan terhadap dirinya dan anaknya. Dia mencoba menggambarkan kondisi tempat tersebut yang gersang, tak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi makanan yang bisa dimakan. Namun nabi Ibrahim malah menerangkan kepada Hajar bahwa ini adalah perintah Allah dan mengisyaratkan agar dia sabar menerima takdir atas setiap perintah dai Allah, supaya ia tunduk dan patuh menurut semua perintah itu.
Mendengar jawaban Ibrahim itu, Hajar hanya menjawab, “Sekarang saya mengerti, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Subhanallah, Inilah serpihan emas pertama. Hajar senantiasa berkhusnuzon kepada suaminya dan bertawakal kepada Allah miskipun ditinggal berdua dengan anaknya di tengah padang pasir yang tandus, karena ia yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang beriman. Ketaatannya kepada Allah dan suaminya, membuatnya mengabaikan setiap bayangan kesulitan yang akan dihadapinya di padang pasir yang tandus.
  
Tabah Menghadapi Cobaan
Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanankan Sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cendrung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrohim: 37).
Tempat Hajar dan Ismail ditinggalkan oleh nabi Ibrahim yang dikatakan padang pasir yang tandus tidak bermanusia ini adalah kota mekah. Hajar menyerahkan sepenuhnya nasib mereka kepada Allah. Ia dan anaknya makan seadanya dari perbekalan yang masih tersisa. Namun lama kelamaan bekal mereka semakin menipis dan akhirnya habis sama sekali. Di tengah padang pasir yang panasnya tidak alang kepalang itu tinggallah mereka dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, kepanasan dan kelaparan. Sungguh penderitaan yang amat sangat, yang tidak pernah dialami manusia lain.
Anaknya semata wayang masih bayi dan masih membutuhkan air susu. Namun jangankan mendapatkan air susu, air mentah pun tidak ada di situ. Hanya air mata yang senantiasa mengalir di pelupuk matanya yang dapat membasahi kekeringan itu sedikit.
Rasa lapar dan dahaga yang berkepanjangan, membuat si anak menangis sekuat-kuatnya. Namun lama kelaman ia semakin lemah dan payah hingga untuk menangispun ia tak mampu. Hajar mencoba sekuat tenaga mempertahankan jiwa sang anak dan sabar atas dirinya sendiri. Tapi apa yang dapat dilakukan di tanah yang tandus ini?
Akhinya anak yang sudah kepayahan itu diletakkannya di pasir, sedangkan dia sendiri pergi mecari air di padang pasir lalu kembali lagi melihat wajah anaknya. Hal yang demikian itu dilakukannya berturut-turut diantara dua tempat kita kenal sebagai safa dan marwah. Setiap kali kembali melihat anaknya, ia melihat seolah-olah melihat tanda-tanda adanya air di bukit safa. Namun ketika didatangi tak setitikpun air yang ia dapatkan. Lalu ia kembali melihat anaknya. Demikianlah ia melakukan berturut-turut tujuh kali pergi dan kembali (Ritual sai dalam ibadah haji merupakan refleksi dari perjuangan Siti Hajar mencari air di tengah padang pasir).
Akhirnya, hajar terhenyak tidak tau harus berikhtiar apa lagi. Segala ikhtiar yang dilakukannya sia-sia. Tanda-tanda kehidupan pada diri anaknya sajalah yang dapat menghibur hatinya. Alangkah gembiranya ia ketika melihat anak yang dicintainya masih hidup.
Hanya kepercayaan penuh kepada Allah, yang menjadikan Hajar tidak berputus asa. Kepercayaan ini sajalah, yang membuat ia kuat bertahan, menghadapi kesedihan yang tidak terperikan. Karena kepercayaan itu pula ia yakin suatu saat ia akan terbebas jua dari kesedihan itu. Kepercayaan ini pula yang menguatkan Hajar untuk terus berusaha miskipun jika dipikir secara rasional tidak mungkin ada air di padang pasir yang tandus itu. Maka setelah yakin anaknya masih hidup ia kembali berlari mencari air di tengah-tengah gurun pasir.
Namun Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya. Atas ketabahan dan ketawakalan Siti Hajar ini maka Allah menurunkan pertolongannya lewat malaikat dengan mata air zam-zam.
Hajar dan anaknya minum sepuas-puasnya sambil mengucapkan puji dan syukur terhadap Allah yang telah mengabulkan doanya dan doa Nabi Ibrahim tatkala meninggalkan mereka.
Subhanallah sungguh luar biasa ketabahan ummu Ismail ini, jika kita lihat realita kita sekarang sungguh bertolak belakang. Masih lekat di benak kita beberapa waktu yang lalu di televisi sempat kita saksikan seorang ibu tega membunuh ketiga buah hatinya hanya karena khawatir tidak mampu menghidupi mereka. Demikian juga tidak jarang kita mendengar seorang ibu rela menjual putrinya demi sesuap nasi dan sungguh sudah menjadi pemandangan kita sehari-hari gelandangan yang masih segar bugar menjatuhkan harga dirinya hanya demi sesuap nasi.
Sudah hilangkah keimanan dan kepercayaan kita kepada Allah? Lupakah kita nahwa mahluk sekecil semut pun Allah tidak lupa memberikan rizkinya setiap hari apalagi kita yang dinobatkan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

 “Setiap kisah yang didasari pada keyakinan pada Allah pertolongan Allah pasti akan datang”
“Sesungguhnya Allah seperti persangkaan hambanya”.

Kemandirian dalam Bersosial dan Pendidikan
Karena air zam-zam ini akhirnya burung-burung padang pasir seekor demi seekor berdatangan untuk melepaskan dahaga. Dan jejak burung ini menjadi petunjuk bagi kafilah-kafilah dan musyafir untuk menemukan sumber air. Keberadaan sumur zam-zam mengundang kehadiran kafilah-kafilah dari suku jurhum. Kafilah-kafilah tersebut mengundang keluarga dan bermukim di daerah tersebut.
Akhirnya daerah tersebut menjadi ramai juga di jadikan sebagai tempat menetap oleh rombongan demi rombongan. Siti Hajar sangat pintar bersosialisasi sehingga ia sangat dihormati dan disegani. Dia juga pintar mendidik anaknya (Ismail), sehingga Ismail tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan tawadhu sehingga menjadi pemuda yang sangat dihormati di masyarakat.

++++++++++++$$$$$$$$+++++++++++++
Repost tulisan lama dalam rangka boyongan dari www.barlanti.multiply.com

Ya Allah fajar dzulhijjah telah di depan mata…
Terukir kembali kisah hamba-hambamu yang mulia…
Tergambar kembali keagungan pribadi mereka…..
Terpapar kembali kisah sendu jejak perjuangan mereka…

Sunggah berat terasa penderitan oleh mereka
Sungguh terjal jalan hidup yang harus dilewati
Namun keimanan di hati…
Menepis semua kesedihan dan derita yang menyapa

Ya Allah, lahirkanlah dari rahim ummat ini…..
Mujahid yang teguh dan taat seperti ibrahim….
Mujahidah yang sabar dan tawakal seperti Hajar…..
Pemuda yang cerdas dan ikhlas seperti Ismail……

Ya Allah jadikanlah dzulhijjah ini
Menjadi titik balik bagi kepribadian kami…..
Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa belajar….
Dan berubah menjadi lebih baik seperti keluarga Ibrahim
 

Friday, 14 September 2012

Tips Menulis 1: Mulailah dari Diri Sendiri


Best Seller
Menulis adalah sebuah keterampilan merangkai kata yang melibatkan hati dan pikiran. Sebagai aktivitas hati dan pikiran, kegiatan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Jadi, menurut saya modal utama untuk menulis hanya dua yaitu HATI dan PIKIRAN. Selama kedua modal itu dimiliki, maka siapa pun bisa MENULIS.
Saat ini, mencari teori tentang tips menulis sudah sangat mudah ditemukan. Cukup ketik kata kunci ‘tips menulis’ di mesin pencari maka jutaan tips menulis akan bermunculan di layar monitor. Tinggal pilih mana yang paling sesuai dan bisa diterapkan pada diri kita.
Namun, sebagus apa pun sebuah tips menulis, jika tidak pernah diterapkan pada diri kita, ia tidak akan memberikan manfaat apapun.  Tips menulis terbaik adalah tips menulis yang mampu diterapkan pada diri kita sendiri. Karena tidak semua tips yang disajikan oleh penulis terkenal atau best seller sekalipun bisa diterapkan pada diri kita.
Saya pribadi, melalui aktivitas menulis yang baru seumur jagung, mencoba menemukan sendiri tips menulis yang cocok untuk diri saya. Dari aktivitas menulis yang masih sedikit tersebut saya menemukan bahwa tips menulis termudah dan efektif bagi diri saya adalah ‘Mulai dari Diri Sendiri’.
Ya, mulailah dari diri sendiri. Jika kesulitan untuk menulis tema yang berat, ya mulai saja dengan apa yang ada pada diri kita. Tulis tentang diri, perasaan, mimpi-mimpi, keinginan, pendapat, opini yang semua berasal dari diri kita. Jadikan diri sendiri sebagai referensi menulis.
Inilah yang disebut oleh Hernowo Hasyim sebagai menulis adalah aktivitas untuk menggali ke dalam diri kita sendiri. Menemukan mutiara terpendam yang tidak mampu kita keluarkan melalui kata-kata atau ucapan.
Saya merasa, metde menulis dengan ‘memulai dari diri sendiri’ ini adalah metode menulis yang paling efektif. Saya tidak pernah takut akan kehabisan ide, kehilangan referensi karena ide dan referensi itu ada dalam diri saya sendiri. Bisa saya bawa kemana dan ditemukan di mana pun.
Dan tips menulis ini juga yang saya gunakan ketika menulis naskah ‘Ketika Merasa Allah tidak Adil ini’.
Saya menulis tentang perasaan inferior, minder dan kekecewaan yang pernah saya rasakan. Menuliskan apa apa yang saya lihat dan saya dengar. Menuliskan apa-apa yang saya pahami. Kemudian, mencoba melihat dari sisi positif. Saya mencoba menggali ke dalam diri saya sendiri.
Mengapa bisa begitu?
Mengapa perasaaan itu muncul?
Bisakah saya menghilangkannya?
Bagaimana agar bisa menjadi lebih baik lagi.
Dan, subhanallah dari proses menulis dan menggali itu, saya berhasil menemukan kunci-kunci perbaikan diri yang saya namakan 3 Positif.
Apa saja 3 positif itu?
Yuuk temukan dalam buku hijau cantik ini J
Si Hijau 'Ketika Merasa Allah Tidak Adil'

Monday, 10 September 2012

Tips Awet Muda Secara Alami*

Tampil cantik dan awet muda ternyata tidak sulit, juga tidak membutuhkan biaya yang mahal. Apalagi sampai menggunakan cara yang membahayakan kesehatan tubuh. Kita hanya perlu melaksanakan beberapa tips sederhana berikut ini, yaitu:

Pertama: Mengatur pola makan.
Mengatur pola makan ini meliputi kuantitas dan kualitasnya. Dari sisi kuantitas, makanan yang dikonsumsi jumlahnya harus cukup atau sedikit kurang dari kebutuhan tubuh. Menurut beberapa teori kesehatan, konsumsi makanan yang berlebih dapat mempercepat proses penuaan tubuh.
Sementara itu, dari sisi kualitas kita perlu memperhatikan makanan yang masuk dalam tubuh kita. Karena, apa yang kita konsumsi juga akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesegaran tubuh kita. Beberapa jenis makanan yang perlu dikonsumsi lebih banyak diantaranya yaitu:
·         Jenis makanan yang kaya kalsium seperti susu dan ikan.
·         Memperbanyak konsumsi sayur dan buah, terutama yang kaya akan vitamin A, C dan E.
·         Kurangi konsumsi gula
·         Mengurangi konsumsi karbohidrat yang mudah dicerna, seperti nasi putih. Disarankan untuk memilih nasi dari beras merah.
·         Pilih ikan sebagai salah sumber protein hewani
·         Cukupi kebutuhan protein nabati dengan mengkonsumsi kacang-kacangan dan kedelai.
·         Kurangi konsumsi makanan instan dan cepat saji.

Kedua : Berolahraga secara teratur minimal tiga kali seminggu
Tujuan utama dari lahraga teratur adalah untuk menjaga agar metabolisme tubuh tetap tinggi dan menjaga berat badan tetap seimbang. Karena semakin meningkat usia massa otot semakin berkurang sementara lemak tubuh semakin bertambah.

Ketiga: Memperbanyak minum air putih
Konsumsi air penting untuk menjaga tubuh dari hidrasi dan kelembaban kulit tetap terjaga. Menurut beberapa hasil penelitian 70 hingga 80% tubuh manusia terdiri dari air. Sehingga, salah satu tips mencapai awet muda secara alami adalah dengan memperbanyak konsumsi air.
Ketiga: Senantiasa berpikiran positif
Tidak hanya makanan, kondisi psikologi dan kejiwaan yang buruk juga ikut berperan mempercepat proses penuaan. Oleh karena itu, kita perlu menjaga kondisi psikologi dan kejiwaan kita tetap positif. Senantiasa berpikiran positif adalah salah satu cara untuk bisa tetap tampil awet muda.
=======
*Pernah dimuat juga di www.jadicerdas.com

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...