Thursday, 17 January 2013

Potret Kuliner Rakyat, Inspirasi di balik kebersahajaan usaha kuliner rakyat*


Bakul Mbak Umi
Bicara tentang bisnis kuliner rakyat, mengingatkanku pada pada sosok mbak ummi. Seorang wanita tengah baya yang setiap pagi bertandang dari satu kos mahasiswa ke kos mahasiswa yang lain. Menjajakan berbagai jenis panganan kecil dan menu sarapan pagi khas jogja dengan harga merakyat.
Mulai dari nasi uduk, nasi kuning, nasi gudeg, bakwan, arem-arem, tempe goreng, tempe mendoan dan berbagai kuliner rakyat lainnya. Penganan tersebut dijual dengan harga yang amat sangat murah. Harga berkisar antara Rp. 200 s/d Rp. 1.500 per porsi/buah (tahun 2003 s/d 2007). Cukup membantu kantong para mahasiswa pada masa itu.
Dalam satu hari biasanya mbak ummi membawa satu keranjang yang di dalamnya terdapat berbagai jenis penganan tersebut. Jika ditaksir modal yang beliau keluarkan dalam satu hari tidak lebih dari Rp. 50.000,-
Biasanya aneka jenis sarapan seperti nasi kuning, nasi uduk atau nasi gudeg beliau olah sendiri, sementara jajanan lain dibeli di pasar kranggan yang teletak beberapa meter dari tunggu jogja.
Ke mana saja panganan tersebut dijajakan? Tidak jauh-jauh. Beliau hanya menjajakan penganan tersebut dari kos ke kos. Jika dihitung hanya sekitar 5 sampai 7 kos dan rumah kontrakan mahasiswa di sekitar kos kami. Bisa dibayangkan berapa prosfek keuntungan yang dikejar oleh mbak ummi dalam satu hari kan?
Keuntungan yang dikejar Mbak Umi dalam satu hari tidak lebih dari Rp. 10.000,- itu pun jika dagangannya laku terjual semua. Jika tidak? Bisa disimpulkan sendiri.

Kuliner rakyat oh kuliner rakyat
Sosok Mbak Umi bagiku tidak jauh beda dengan sosok ibuku ketika kami masih mendiami rumah kecil di samping Sekolah Dasar tempat Bapak bekerja. Ibu, dengan modal seadanya mengolah tepung atau singkong menjadi jajanan sederhana yang bisa menghasilkan uang.  Bakwan, onde-onde, lepat bugis, keripik dan penganan kecil lainnya.
Berapa modal awal yang dibutuhkan tidak pernah dipikirkan. Demikian juga dengan keuntungan yang diperoleh. Harga penganan pun hanya ditentukan berdasarkan insting dan naluri kemanusiaan. Jika ukurannya sebesar ini, lalu pantasnya dihargai berapa ya?
Jangan pernah berpikir beliau akan menghitung B/C ratio untuk menentukan harga jajanan yang dijualnya. Bahkan memperkirakan nanti rugi atau untung dengan harga yang ditetapkan pun tidak pernah.
Apakah beliau tidak mengharapkan keuntungan? Tentu saja iya. Bagaimana pun tujuan awal membuat aneka kuliner rakyat itu adalah untuk menambah penghasilan. Namun nalar sederhana yang ada dipikiran Ibu lah yang menuntunnya untuk berbuat demikian.
Dan, nalar demikian jugalah yang menuntun para penggiat kuliner rakyat lainnya dalam menjalankan usaha kuliner kecil-kecilan. Nalar yang amat sangat sederhana dan bersahaja itu juga yang membuat mereka ‘bertahan’ dalam artian tidak maju dan tidak mundur dalam usaha kuliner rakyat.
Tidak maju, karena keterbatasan kemampuan managerial dan finansial. Tidak mundur karena tuntutan kebutuhan ‘dapur’ yang tidak bisa ditunda.

Ciri khas usaha kuliner rakyat
Mbak ummi dan ibuku adalah potret usaha kecil kuliner rakyat. Sangat sederhana sekali nalar bisnis mereka. Baik bagi Mbak Umi maupun ibu, berapa pun omset yang diputar hari ini tidaklah penting. Berapa keuntungan yang diperoleh hari ini juga tidak penting. Bagi mereka yang terpenting adalah usaha hari ini telah dilakukan.
Di negeri ini dengan mudah kita menemukan sosok-sosok seperti mereka. Cobalah sejenak kita perhatikan disekeliling kita. Di sepanjang kaki lima, dipinggiran jalan menjelang sore hari. Dengan mudah kita akan menemukan sosok mbak umi-mbak umi yang lain dengan beragam kuliner rakyat yang mereka tawarkan.
Tampil apa adanya dengan harga murah meriah adalah ciri khas kuliner rakyat.  Namun bukan berarti cita rasanya juga biasa-biasa saja. Kuliner rakyat selalu menawarkan cita rasa yang unik dan khas. Sehingga, pada dasarnya kuliner rakyat jauh lebih potensial untuk dikembangkan menjadi bisnis kuliner yang berdaya saing.

Kuliner rakyat go to bisnis culiner
Pertanyaan selanjutnya adalah, mungkinkah usaha kuliner rakyat yang diwakili oleh bakul mbak ummi dan ibuku tadi berkembang menjadi bisnis kuliner yang menjanjikan? Kenapa tidak? Kuliner rakyat, seperti diungkapkan di atas memiliki demikian banyak keunggulan. Ia hanya membutuhkan sedikit polesan dan kreatifitas bisnis hingga mampu tumbuh menjadi sebuah ladang bisnis.
Belajar dari kelemahan usaha kuliner mbak ummi dan ibuku, kita bisa mentranspormasi usaha kuliner rakyat yang tampak gurem menjadi usaha bisnis kuliner yang prosfektif. Apa saja kelemahan-kelemahan dari usaha kuliner rakyat mbak umi dkk:
1.      Lemahnya modal
Hal pertama yang sebenarnya juga disadari oleh para pelaku usaha kuliner rakyat adalah modal yang kecil. Bagaimana mungkin mereka mengembangkan bisnis, sementara modal tidak pernah bergerak dari kisaran modal awal. Bahkan modal sebesar itu masih harus dibagi dengan kebutuhan pokok sehari-hari.

2.      Ketiadaan quality control
Kelemahan berikutnya yang menghinggapi usaha kuliner rakyat adalah quality control yang kurang. Kebersihan dan keamanan kuliner yang dihasilkan sangat tidak terjamin. Apalagi standar mutu, masih sangat jauh. Hal ini, sangat terkait dengan lemahnya modal dan tingkat pengetahuan produsen yang masih sangat minim.

3.      Observasi pasar
Kuliner rakyat adalah usaha kuliner yang tumbuh karena faktor ekonomi dan kebutuhan. Mereka hadir, karena pelakunya butuh penghasilan dari usaha yang mereka kembangkan. Sehingga observasi pasar tidak pernah terpikirkan. Bagi mereka, setiap kepala yan ditemui adalah pangsa pasar yang harus mereka prosfek.

4.      Managemen
Kuliner rakyat berkembang tanpa sentuhan managemen bisnis sama sekali. Hal ini bisa dimaklumi karena memang dari awal usaha kuliner rakyat tumbuh tanpa visi bisnis. Kuliner rakyat hanya berkembang menurut nalar sederhana pelakunya, oleh karena itu untuk menumbuhkan usaha kecil ini menjadi usaha bisnis diperlukan perubahan cara pandang awal dalam membangun usaha. Semua pada akhirnya akan bermuara pada managemen, jika ingin berkembang menjadi sebuah bisnis kuliner.

Empat kelemahan tadilah yang menjadi tembok penghalang sehingga usaha kuliner yang dijalankan oleh mbak umi, ibuku dan usaha kecil lainnya sehingga mereka sulit berkembang. Omset tidak bertambah dan keuntungan sangat sulit diperoleh. Sehingga kalaupun usaha itu masih dijalankan, dia tidak akan mengubah taraf  hidup pelakunya. Bahkan cenderung akan menurunkan taraf hidup mereka. Mengapa? Karena kebutuhan setiap hari cendrung meningkat dan itu tidak dimbangi dengan pendapatan yang diperoleh dari usaha kuliner kecil-kecilan tersebut.
Lalu, bagaimana caranya agar usaha kuliner ini menguntungkan?
Setiap ide bisnis memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang menjadi besar. Demikian juga halnya dengan ide bisnis yang ada dan dilakoni oleh mbak umi –meski dalam pikiran sederhananya tidak tergambarkan ide bisnis tersebut--.
Lalu apa kuncinya agar ide bisnis yang tersirat dari usaha kuliner mbak umi bisa tumbuh menjadi bisnis kuliner yang prospektif? Paling tidak ada tujuh kunci dasar yang bisa kita gunakan untuk mendongkrak ide bisnis tersebut. Yaitu:
1.      Tambahan modal
Mau tidak mau, tambahan modal harus ada agar ide bisnis ini berkembang. Bukan hanya sekedar modal materi, namun yang paling utama adalah modal immateri. Contohnya relasi, ide kreatif, kesehatan, keluarga, sahabat, rekan seprofesi, semua adalah modal penting yang bisa kita berdayakan untuk menumbuhkembangkan bisnis kuliner yang sedang dijalankan.
2.      Proses produksi harus memperhatikan standar mutu
Menjaga standar mutu dalam proses produksi wajib hukumnya dalam bisnis kuliner. Mutu produk adalah nyawa dalam menjalankan bisnis ini. Tindakan minimal yang dapat dilakukan untuk menjaga standar mutu ini adalah dengan menjaga kebersihan dan keamanan produk.
3.      Pengemasan, simple tapi menarik
Produk dalam kemasan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada produk yang tidak dikemas. Pengemasan produk selain untuk menjaga kebersihan juga untuk menunjukkan identitas usaha yang sedang dibangun kepada orang lain. Selain itu kemasan juga berfungsi sebagai sarana promosi secara tidak langsung.
4.      Promosi
Seperti halnya bisnis lain, bisnis kuliner juga memerlukan promosi-promosi yang gencar pada publik. Sudah saatnya kuliner rakyat diperkenalkan di bazar-bazar, expo-expo yang saat ini hampir setiap saat digelar diberbagai kesempatan. Sehingga mereka bisa berkembang dan menunjukkan potensinya pada masyarakat golongan menengah ke atas yang semakin sulit untuk akrab dengan kuliner rakyat.
5.      Strategi pemasaran
Pemasaran adalah ujung tombak keberhasilan bisnis apapun termasuk bisnis kuliner ini. Produk sebagus apapun menjadi tidak berarti jika tidak diikuti oleh sentuhan pemasaran yang jitu.
6.      Pelayanan prima
Salah satu kemuliaan bergelut di dunia bisnis adalah karena dunia ini menuntut pelakunya untuk memuliakan orang lain (konsumen). Memberikan pelayanan prima pada pelanggan dalah kunci sukses dalam bisi kuliner.
7.      Fokus
Terakhir, apa pun yang ingin kita capai kunci pemungkasnya adalah fokus...fokus...dan fokus. Ingin sukses di bisnis kuliner maka fokuslah!

Kuliner rakyat go to bisnis kuliner, Kenapa tidak?

*Pernah diikutkan dalam lomba antologi Culiner Inspiratif (CI)

1 comment:

  1. Sebenernya yang paling penting tuh ada waktu dan kesempatan . hehe, nice info .

    ReplyDelete

Tinggalkan Komen Ya!

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...