Sunday, 29 September 2013

Khayalan-khayalanku Tentang Rumah Impian

Boleh dibilang aku adalah anak rumahan. Senang sekali tinggal di rumah. Bagiku rumah adalah tempat yang paling nyaman dan menyenangkan. Namun, di rumah bukan berarti aku tidak menghasilkan apa-apa. Justru di rumahlah aku bekerja untuk menjemput rezeki dan menghasilkan berbagai karya.
Karenanya, aku selalu berkhayal untuk membangun sebuah rumah impian. Aku membayangkan di rumah impian tersebut nantinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sedang saja. Dilengkapi dengan ruangan-ruangan sebagaimana rumah pada umumnya, namun ada satu yang membedakan rumah impianku dengan rumah-rumah lain. Yaitu memiliki ruangan khusus seluas minimal 4 x 4 meter sebagai ruang karya. Nah, ruangan ini akan menjadi tempat bagiku untuk merenung, mencari ide, menulis dan menghasilkan karya-karya positif bersama notebook mungil yang selalu setia menemaniku.
Tidak hanya itu, Aku juga berkhayal di ruangan itu saya tidak ingin sendiri. Aku ingin mengajak perempuan-perempuan lain berkarya di sana. Ya, Aku berkhayal sekalipun hanya bergerak dari rumah saya ingin ada orang lain yang berhasil saya rangkul. Bersama-sama berkarya dan berdaya. Ya, saya ingin menjadikan ruangan itu sebagai ruang karya, ruang kerja --jika tidak bisa disebut ruang kantor-- bersama perempuan-perempuan lain. Di sana saya mengajak mereka menulis, ngeblog, dan menghasilkan karya-karya positif yang tidak hanya menghabiskan waktu, tapi juga menghasilkan uang untuk diri dan keluarganya.
Aku juga berkhayal rumah impianku adalah rumah yang hijau. Artinya, pekarangan rumah impian itu harus hijau dan produktif. Sekeliling rumah impian tersebut penuh dengan tanaman cabe organik. Tanaman cabe itu tumbuh subur dengan buahnya yang besar-besar dan segar. Setiap sore aku akan duduk manis di beranda bersama keluarga kecilku sambil minum teh :) Pasti sangat menyenangkan sambil melihat tanaman cabe dengan buah yang mengangguk-angguk takzim dari tangkainya.
Saya juga berhayal rumahku adalah zero waste home. Artinya rumah impianku haruslah rumah yang bersih bebas sampah. Sampah anorganik seperti kertas, kaleng, botol dan plastik didaur ulang, yang laku dijual akan dijual atau digunakan lagi. Sementara sampah organik akan diolah menjadi pupuk cair organik dengan menggunakan teknologi biokomposter. Nah, pupuk cair organik ini kemudian dialirkan ke lahan cabe dengan mengunakan selang infus. Sehingga terlihat modern dan bersih hehe.....
Aaah..berkhayal itu memang indah. Apalagi menghayalkan rumah impianku nan hijau, nyaman dan dipenuhi oleh orang-orang yang kreatif dan produktif. Semoga suatu saat ini tidak hanya sekedar hayalan. Akan tetapi menjadi nyata meski harus tertatih untuk mencapai ke sana ihiiy....:)
Ini hayalanku, mana hayalanmu..??

Saturday, 28 September 2013

Tradisi Menuliskan Rasa Syukur untuk Kehidupan yang Lebih Sehat dan Bahagia



Resep sehat itu ternyata sederhana. Hanya dengan membiasakan tradisi-tradisi positif dalam hidup kita. Belakangan ini saya sedang berusaha untuk menerapkan tradisi sederhana sehabis sholat subuh. Bukan tradisi yang luar biasa sebenarnya. Sederhana saja. Habis sholat subuh, saya segera membereskan mukena kemudian mengambil sebuah buku dan pena. Selanjutnya, saya menulis di lembaran kosong pada buku tersebut.
Apa yang saya tulis?
Saya tidak menuliskan hal-hal yang berat. Saya hanya menuliskan hal-hal yang membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan membuka mata hari ini. Saya menuliskan apa saja yang melahirkan setitik bahagia di hati. Saya menuliskan apa saja yang pantas saya syukuri, tanpa beban dan tanpa berpikir berat.

Contohnya:
  •   Alhamdulillah malam ini saya tidur dengan nyenyak
  • Terimakasih ya Allah masih mengizinkan saya menghirup nafas hari ini.
  • Kemaren berhasil menulis 2 artikel, alhamdulillah. Semoga hari ini bisa lebih
  •  Alhamdulillah pagi ini bangun sebelum azan, saya bisa sholat tepat waktu.
  •  Alhamdulillah, subuh ini diberi kekuatan untuk menulis. Biasanya habis subuh tidur lagi hehe… Semoga rezeki hari ini lebih melimpah dan berkah.

Ya, rasa syukur yang sederhana seperti itu saja yang saya tuliskan. Terkesan sederhana dan simpel kan? Tapiii, efeknya sungguh luar biasa. Setelah rutin menerapkan tradisi menuliskan rasa syukur setiap pagi, saya merasakan beberapa efek positif dalam hidup saya. Diantaranya yaitu:

Pertama: saya tidak lagi tidur habis subuh hehe… J *)tutup muka pake wajan :p
Ya, sebelumnya saya hobi sekali tidur habis sholat subuh. Rasanya kelopak mata ini beraaaat betul untuk dibuka. Bahkan tidak jarang saya tertidur di atas sajadah….upss :p Tapiii…, semenjak membiasakan diri menulis semua rasa syukur sehabis subuh kebiasaan itu jadi berubah. Saya tidak lagi tidur habis subuh. Melainkan, langsung memaksa diri untuk mengambil buku dan pena, kemudian menuliskan semua rasa syukur saya hari ini.

Kedua: saya merasa lebih bersemangat dan optimis menyambut aktivitas hari itu
Setelah puas menuliskan semua rasa syukur saya hari ini, biasanya saya langsung membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang masih terbengkalai. Saya percaya bahwa waktu-waktu setelah subuh adalah golden time, waktu-waktu emas. Saat yang paling tepat untuk mengerjakan hal-hal produktif untuk menjemput rezeki.
Karena menulis merupakan sumber penghasilan utama saya, maka menulis adalah aktivitas pilihan yang saya lakukan setelah subuh hingga matahari terbit. Setelahnya baru mengerjakan berbagai aktivitas rumah tangga yang tak kalah menyita waktu dan energi. Kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih, sholat dhuha dan kembali ke laptop hehe… Demikianlah rutinitas frelancer yang sering dianggap pengangguran ini J
Menuliskan rasa syukur membuat pikiran saya menjadi lebih refres dan ringan. Saya menjadi lebih bersemangat untuk melakukan rangkaian aktivitas demi aktivitas. Selalu optimis bahwa rezeki dari Allah selalu akan mengalir selama saya terus berusaha. Tidak peduli apakah bulan ini ada SPK yang ditanda tangani atau tidak. Tidak peduli apakah artikel yang saya tulis nantinya akan dimuat atau tidak. Yang penting saya sudah ikhtiar dengan maksimal, hasilnya biarlah menjadi ketetapan Allah. Saya yakin Allah Maha adil kok J

Ketiga: saya lebih enjoy menjalani hidup
Saya sekarang cenderung lebih enjoy, rileks dan tawakal. Mengapa? Karena setiap kali menginventaris hal-hal yang pantas saya syukuri setiap hari, saya merasa bahwa Allah begitu sayang sama saya. Disaat ibadah dan ketaatan saya masih secuil, Allah justru melimpahkan begitu banyak nikmat-Nya pada saya. Tidak jarang saya menemukan bahwa di balik setiap musibah yang saya alami ada hal-hal besar yang diselamatkan oleh Allah untuk saya melalui musibah tersebut. Jadi, masih pantaskah saya untuk mendustakan semua nikmat-Nya.
Jadi, sekarang saya cenderung lebih tenang ketika mengalami sebuah musibah. Saya berusaha melihat apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan Allah di balik musibah ini. Sehingga saya menjadi lebih enjoy menjalani hari demi hari. Karena saya yakin Allah hanya menginginkan yang baik-baik saja untuk saya.

Keempat: Saya merasa lebih sehat.
Semenjak rutin menuliskan rasa syukur dan meninggalkan kebiasaan tidur setelah subuh, saya merasa jauh lebih sehat. Biasanya kepala saya pusing ketika bangun pagi setelah tidur ronde kedua, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Tubuh pun terasa lebih sehat karena setiap hari menghirup udara segar dan menyongsong matahari pagi dengan penuh semangat.
Dan taraaa…
Ternyata manfaat yang saya rasakan dari tradisi menulis rasa syukur secara rutin ini juga sudah dibuktikan secara ilmiah. Seorang profesor bidang psikologi dari Universitas of California, Amerika Serikat yaitu Prof. Robert Emmons merupakan pakar terkemuka dalam bidang penelitian “sikap syukur”. Dari beberapa hasil penelitiannya Prof. Emmons melaporkan bahwa seseorang yang setiap hari mencatat rasa syukur atas semua kebaikan yang diterimanya, cenderung akan lebih teratur berolah raga, jarang mengeluhkan gejala penyakit dan merasa bahwa secara keseluruhan kehidupannya lebih baik.
Sebagai seorang muslim saya pun meyakini akan janji Allah dalam Al quran:
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman: ‘sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Referensi: 
Sriherwanto, C. 2008. Temuan Ilmiah Modern, Syukur Menambah Nikmat. Majalah Sabili Edisi 05 TH. XVI. Hal: 50-53.
 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan

Wednesday, 25 September 2013

Konsumsi Lalapan, Tradisi Baik yang Menyehatkan

 


Keluarga kami adalah pecinta lalapan. Mulai dari Bapak yang sangat tergantung pada lalapan. Sayur menjadi tidak terlalu penting jika di meja makan sudah ada lalapan. Jika ingin melihat Bapak makan dengan lahap, maka sediakanlah lalapan. Maka nasi satu piring akan ludes dalam sekejap.
Kebiasaan ini ternyata menular pada ibu, saya dan adek-adek. Boleh dibilang, keluarga kami adalah keluarga pecinta lalapan. 
Sepiring Lalapan untuk Makan Malam
Asyiknya, kami sekeluarga tidak pilih-pilih jenis lalapan yang dikonsumsi. Jenis lalapan apapun kami suka. Mulai dari yang umum dan sering djual di pasar seperti daun kemangi, kol, selada, dan ketimun. Hingga jenis lalapan lain yang jarang dijual di pasar seperti daun pepaya, daun jambu dan daun marpoyan yang masih muda juga dijadikan lalapan. Bahkan, jika tidak ada daun-daunan tersebut sebagai lalapan, teron rimbang dan cabe muda juga oke dijadikan lalapan.
Daun Pepaya Muda Lalapan Favorit Bapak
Kebiasaan mengkonsumsi lalapan ini sudah menjadi tradisi sekaligus kebutuhan bagi kami. Rasanya, belum lengkap hidangan sebelum ada piring lalapan. Tak perlu lalapan mahal. Pucuk daun muda dari tanaman yang ada di halaman rumah pun bisa dijadikan sebagai lalapan.

Manfaat Mengkonsumsi Lalapan
Awalnya saya ragu menuliskan tradisi mengkonsumsi lalapan ini sebagai salah satu contoh tradisi yang menyehatkan. Namun, setelah mencari info sana sini juga googling di google saya pun meyakinkan hati untuk mengangkat tradisi mengkonsumsi lalapan ini dalam tulisan.
Ya, mengkonsumsi lalapan ternyata memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, juga kesehatan kantong tentunya hehe… Nah berikut adalah beberapa manfaat lalapan bagi kesehatan:
  • ·         Sumber vitamin dan mineral yang baik bagi kesehatan tubuh
Lalapan merupakan jenis sayuran mentah ataupun setengah matang yang dikonsumsi bersama nasi. Diketahui, sayuran mentah ini memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dari pada sayuran yang sudah diolah dan dimasak. Mengapa? Karena pada lalapan (sayuran mentah) nutrisi tidak ada yang rusak ataupun hilang bersama proses pengolahan. Lalapan tidak perlu diolah, cukup dicuci bersih dengan air bersih yang mengalir. Kalaupun ingin direbus lalapan cukup direbus sebentar.
Lalapan merupakan sumber mikronutrien yang lengkap bagi tubuh. Berbagai vitamin dan mineral penting bagi tubuh terdapat di dalamnya. Lalapan juga merupakan sumber serat  yang berfungsi untuk menyehatkan usus, mencegah sembelit dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
  • ·         Mencegah penuaan dini dan menjaga kesehatan kulit
Nah, ibu-ibu semua pasti mendampakan ini bukan? Ternyata resep untuk tetap awet muda, memiliki kulit yang sehat dan kencang itu cukup mudah. Cukup dengan rutin mengkonsumsi lalapan setiap hari.
Mengapa bisa demikian?
Lalapan ternyata merupakan sumber antioksidan alami bagi tubuh. Kandungan antioksidan ini bermanfaat menangkal radikal bebas dalam tubuh yang menjadi penyebab utama penuaan dini. Karenanya dengan rutin mengkonsumsi lalapan, kulit akan tetap sehat cerah dan awet muda. Mau??
  • ·         Mengobati berbagai penyakit
Manfaat lain dari lalapan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengobati berbagai penyakit. Konsumsi lalapan tertentu secara rutin dan takaran yang pas merupakan terapi alami untuk menyembuhkan dan mempercepat proses penyembuhan berbagai penyakit, seperti: diabetes, kanker, sakit kuning, ambeien, penambah nafsu makan, peluruh keringat, peluruh air seni dan lain sebagainya.
So, konsumsi lalapan adalah tradisi sederhana untuk mendapatkan manfaat kesehatan jangka panjang yang luar biasa. Ow…pantesan Babeku di usia senjanya tetap sehat, kuat dan awet muda J Meskipun awalnya keluarga kami memilih tradisi mengkonsumsi lalapan ini bukan karena motivasi manfaat kesehatannya. Melainkan, murni karena kebiasaan yang sudah tercipta secara alami dan berjalan begitu saja.
Rimbang, Lalapan Favoritku Baik untuk Kesehatan Mata

Hal-hal yang Penting Diperhatikan
Manfaat lalapan bagi kesehatan sudah tidak diragukan lagi. Tapiii…, ada beberapa hal yang penting diperhatikan sebelum mengkonsumsi lalapan. Agar lalapan yang dikonsumsi benar-benar terjamin, sehat berkhasiat dan bebas dari kontaminasi senyawa-senyawa berbahaya bagi tubuh.
Nah untuk itu, saya dan ibu terbiasa melakukan hal-hal berikut sebelum menghidangkan sepiring lalapan di meja makan.
  • ·         Pilih lalapan yang sehat dan masih segar
Untuk memastikan bahwa lalapan yang kami konsumsi sehat, Saya dan Ibu biasanya memilih membeli sayuran untuk lalapan dari petani langsung. Biasanya akalupun membeli di pasar, ibu mencari pedagang sayuran yang dikenalnya menjual sayuran dari kebun sendiri. Petani gurem yang menjual sayuran sendiri biasanya tidak menggunakan pestisida dalam proses budidayanya. Karena, mereka hanya menanam dalam areal yang sempit di Daerah Aliran Sungai yang terkenal subur.
Selain itu, kami juga lebih memilih lalapan yang di dapat di sekeliling rumah atau di kebun. Di halaman rumah kami ada pohon rimbang, jambu biji, pepaya, daun salam dan kemangi yang biasa dijadikan sebagai lalapan.
  • ·         Cuci dulu sebelum dikonsumsi
Agar lalapan yang dikonsumsi benar-benar bersih dan terbebas dari kotoran dan pestisida saya dan Ibu langsung mencuci lalapan yang akan dikonsumsi. Mencucinya cukup dengan air bersih yang mengalir. Hal ini dimaksudkan agar kotoran dan residu pestisida ikut mengalir bersama air, tidak menempel lagi pada sayur lalapan yang akan dikonsumsi.
  • ·         Dikonsumsi mentah atau setengah matang
Kami lebih suka mengkonsumsi lalapan dalam bentuk mentah, khususnya lalapan daun. Namun, beberapa jenis lalapan seperti terong, kecipir, buncis dan kacang panjang biasanya direbus setengah matang. Tujuannya tidak lain untuk menghilangkan rasa langu pada lalapan tersebut jika dikonsumsi mentah.
  • ·         Tidak berlebih-lebihan
Ya, berlebih-lebihan itu memang tidak baik. Termasuk dalam mengkonsumsi lalapan. Seperlunya saja.
Ok, demikian tradisi baik dalam keluargaku, mana tradisi baik di keluargamu? 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan

Sunday, 15 September 2013

Memasyarakatkan Jamu dengan Lisan dan Tulisan


Sejatinya, saya termasuk orang yang terlambat tertarik dengan jamu. Mungkin, karena saya hidup di lingkungan keluarga yang tidak dekat dengan tradisi minum jamu. Kalaupun mengkonsumsi jamu itu bukan dari ramuan sendirian. Melainkan, membeli dari mbak-mbak bakul jamu gendong yang rutin datang seminggu sekali di depan rumah.
Perkenalan paling mengesankan dengan jamu adalah saat masih duduk di sekolah dasar. Kala itu sedang ngetren jamu ‘buyung upik’ yaitu jamu yang rasanya lebih manis –karena diberi campuran madu yang banya-- khusus untuk anak-anak. Saya tidak tau pasti apa khasiatnya. Tapi yang jelas waktu itu, saya suka sekali jika mbak jamu lewat depan rumah. Itu artinya saya bisa merengek minta dibelikan jamu ‘buyung upik’ pada ibu.
Tradisi minum jamu ini tidak berlangsung langgeng. Begitu mbak-mbak jamu itu tidak pernah datang lagi, tradisi minum jamu keluarga kami juga berhenti. Padahal, di sekitar rumah kami sebenarnya tanaman obat yang bisa diolah menjadi jamu banyak tersedia. Seperti temu-temuan, kunir, kencur, jahe, kapulaga dan sejenisnya. Demikian juga dengan tanaman obat lain seperti sambiloto, mahkotadewa, pepaya, jeruk nipis dan lain-lain. Kami lebih memilih ke dokter atau mantri kesehatan untuk berobat, sekalipun hanya untuk mendapatkan obat penambah nafsu makan.


Jatuh Cinta pada Jamu
Ketika kuliah di Yogyakarta saya bisa dengan mudah menemukan penjual jamu keliling. Di sana juga saya mendapatkan banyak pengetahuan yang benar dan ilmiah tentang jamu. Beberapa kali Saya sempat mengikuti seminar tentang jamu dan potensi pekarangan untuk mengembangkan tanaman biofarmaka.
Sebelumnya saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang jamu. Pikiran sederhana saya waktu itu menerjemahkan bahwa jamu merupakan obat-obatan berbentuk serbuk, memiliki cita rasa pahit (kecuali jamu buyung upik tentunya) dan dibuat oleh orang jawa. Hehehe…sesederhana itu pikiran saya waktu itu tentang jamu.
Laos dan Bawang Putih Bagian Tanaman Berkhasiat Obat
Namun, seiring waktu saya mulai paham bahwa jamu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut obat-obatan dan suplemen tradisional asli warisan leluhur dari Indonesia. Belakangan dikenal juga dengan istilah herbal. Jamu terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun-daunan, akar, rimpang, kulit batang, buah dan bagian lain yang berkhasiat obat dari tumbuhan. Selain tumbuhan beberapa bagian atau yang dihasilkan oleh hewan juga sering digunakan seperti madu, empedu kambing dan sebagainya.
Oo..ternyata jamu tidak sesempit yang saya ketahui selama ini. Ternyata jika saya membuat ramuan perasan daun pepaya untuk meningkatkan nafsu makan, itu merupakan jamu. Atau jika saya membuat air rebusan daun salam untuk menurunkan kadar asam urat itu juga termasuk jamu. Mengetahui semua itu seakan membuka mata saya lebar-lebar, bahwa alam sudah menyediakan potensi obat-obatan yang melimpah. Apa yang ada di halaman rumah saya merupakan investasi kesehatan yang luar biasa jika mau dikembangkan. Temu-temuan, kunir, jahe, laos, pepaya, mahkota dewa, kemangi, tebu dan lain-lain. Hanya memerlukan pengetahuan dan kemauan untuk mengolahnya menjadi jamu.
Sejak itu saya mulai jatuh cinta dengan jamu. Saya semakin tertarik untuk menggali pengetahuan tentang jamu dan tanaman herbal. Berbagai resep jamu saya kumpulkan dan sesekali saya praktekkan untuk memberi pertolongan pertama jika diri sendiri atau anggota keluarga sakit. Saya sering menggunakan perasan air daun pepaya untuk menambah nafsu makan. Rebusan daun tapak dara untuk mengobati kencing manis, wedang jahe untuk menghangatkan badan, jamu beras kencur sebagai tonikom (penyegar) serta menghilangkan pegal-pegal pada tubuh dan lain sebagainya.
Ramuan Daun Pepaya untuk Menambah Nafsu Makan

Ya, kita patut bangga pada jamu. Karena jamu merupakan salah satu karya bangsa. Bahkan Kemendikbud sedang berusaha untuk mengajukan pada Lembaga Kebudayaan PBB, UNISCO untuk mendapatkan pengakuan bahwa jamu sebagai Warisan Dunia Karsadan Karya Bangsa Indonesia.

Mengenalkan Secara Lisan
Semangat untuk mencintai jamu sebagai warisan medis dari leluhur tidak saya nikmati sendiri. Dalam berbagai kesempatan saya berbagi pengalaman manfaat mengkonsumsi jamu dan cara pengolahannya dengan teman dan saudara. Jika ada saudara yang demam, sakit dan sejenisnya saya lebih senang menyarankan mereka untuk mengkonsumsi jamu. Jika mengetahui ramuan yang sesuai untuk sakit yang mereka derita, saya akan memberikan resepnya dengan sukarela.
Ini adalah cara sederhana saya untuk memasyarakatkan jamu. Karena, cara ini juga yang telah ditempuh oleh nenek moyang kita, sehingga pengetahuan tentang jamu tetap awet dari generasi ke generasi. Sekarang adalah tanggung jawab saya, Anda dan kita semua untuk meneruskan estapet pengetahuan tersebut ke generasi selanjutnya.
Sekarang menjadi lebih mudah. Karena jamu instan dan kemasan sudah banyak diproduksi dan dijual di apotik-apotik dan toko-toko obat. Anda bisa merekomendasikan mereka untuk memilih obat-obatan tradisional tersebut. Tentunya tetap dengan memberikan edukasi agar mereka memilih jamu kemasan yang sudah terdaftar di Badan POM RI.

Menyebarkan Melalui Tulisan
Tidak dipungkiri, respon masyarakat dalam menerima pengetahuan tradisional cenderung rendah. Kehadiran teknologi pengobatan modern yang lebih praktis dan cepat cenderung membuat manusia semakin mengesampingkan pengobatan tradisional yang dinilai lebih merepotkan dan reaksinya cenderung lebih lambat.
Namun perkembangan itu tidak perlu membuat kita pesimis. Yang perlu dilakukan adalah terus mengedukasi masyarakat secara masif. Memberikan pengetahuan yang benar tentang jamu dan mengajak mereka untuk mencintai jamu.
Ensiklopedia Tanaman Obat (Rumah Ide, 2013)

Hal inilah yang kemudian menggerakkan saya untuk membagi kumpulan pengetahuan tentang jamu dan tanaman obat dalam bentuk tulisan. Kumpulan pengetahuan tersebut kemudian saya bukukan  yaitu ‘Ensiklopedia Tanaman Obat’ yang diterbitkan oleh Rumah Ide. Sementara itu kumpulan resep obat-obatan tradisional yang saya peroleh dari buku dan hasil wawancara dari berbagai narasumber juga insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku. Sebagai penulis tentu inilah upaya terbaik yang bisa saya lakukan.
Ya, untuk saat ini kekuatan lisan harus didampingi dengan kekuatan tulisan. Bersatunya dua kekuatan itu insya Allah akan cukup efektif untuk memasyarakatkan jamu di lingkungan kita.

Memasyarakatkan Jamu secara Terpadu
Memasyarakatkan jamu secara terpadu perlu dilakukan. Semua pihak dituntut untuk mengambil peran sesuai dengan posisi, pengetahuan dan kemampuannya. Misalnya, apoteker dan dokter memberikan pengetahuan yang benar tentang jamu kepada para pasien atau minimal tidak mendeskriditkan jamu sebagai ramuan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ‘keilmiahannya’. Sudah waktunya ahli-ahli farmasi dan kesehatan di negeri ini meneliti potensi jamu. Menemukan resep dan dosis yang tepat dalam mengkonsumsi jamu. Sehingga jamu bisa diakui, diterima dan dapat dipertanggung jawabkan dari sisi ilmiahnya.
Penulis memasyarakatkan jamu dalam bentuk tulisan. Blogger mengedukasi masyarakat tentang jamu melalui postingan tulisan, foto dan kampanye tentang jamu di blognya. Guru memberi edukasi tentang jamu pada muridnya sejak dini. Ibu-ibu PKK mengajak masyarakat menanam tanaman toga dan mendidik kadernya untuk membuat ramuan jamu. Jadi, semua pihak sejatinya bisa memberikan kontribusi positif untuk memasyarakatkan jamu.
Jadi, mari mencintai jamu dan mari mengambil peran untuk memasyarakatkan jamu!

Referensi:

Friday, 13 September 2013

Kami Menyebutnya Pohon Kehidupan

Ketika membaca tema GA ini --Aku dan Pohon--, aku sejenak berpikir. Apa yaa.. pohon yang paling berkesan dalam hidupku? Tiba-tiba ingatanku terpaku pada sosok pohon tanaman tahunan yang berbaris rapi di sebuah lahan seluas satu hektar. Lahan yang hampir setiap hari dikunjungi oleh sepasang bidadari dari mulai ditanami hingga hari ini. Setiap hari juga sepasang bidadari itu mendatangi satu demi satu pohon yang berbaris tersebut untuk menggoreskan ujung pisau bersiku ke kulit pohon untuk mengeluarkan cairan putih susu.
Sejenak nafasku tiba-tiba sesak, mata berkabut menahan rasa haru yang tiba-tiba membuncah. Slide demi slide suka duka bersama barisan pohon dan sepasang bidadari itu, menari-nari di benakku. Kisah itu belum selesai, bahkan masih berlanjut hingga hari ini. Bagaimana, pohon yang tumbuh kokoh itu rela dilukai setiap hari untuk diambil cairan putih susu yang mengalir pada goresan luka itu. Bagaimana sepasang bidadari bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah dari batang-batang pohon tersebut. Pandangan mataku semakin buram ketika mengingat tumit kaki ibuku yang tampak retak-retak. Ya, Allah tumit kaki itu yang setiap hari berjalan dari satu pohon ke pohon lain untuk mengumpulkan cairan putih susu yang keluar dari pohon-pohon yang tumbuh berbaris di lahan tersebut. Tenggorokanku tercekat, cairan bening tak bisa dicegah mengalir dari sudut mata.
Ya, ingatan pada barisan pohon itu dan sepasang bidadari selalu menghadirkan rasa haru. Bagaimana tidak? Dalam setiap tetes keringat yang mengalir dari pori-pori kulit sepasang bidadari itu. Dalam setiap tetesan cairan putih susu yang mengalir dari goresan di kulit pohon-pohon itulah mengalir nafas kehidupan dan harapan bagi kami sekeluarga. 
Sepasang Bidadari

Anda tau?
Sepasang bidadari itu adalah kedua orang tuaku, emak dan bapak –meminjam istilahnya Ippho Santosa--. Pohon yang berbaris rapi mengeluarkan cairan putih susu itu adalah pohon karet. Pohon inilah yang menjadi sumber penghidupan keluarga kami. Batang pohon ini setiap hari disadap, diambil cairan putih susunya (latex), dibekukan dan dijual. Dari sanalah kedua orang tuaku memperoleh rupiah demi rupiah untuk menafkahi dan menyekolahkan kami anak-anaknya. Hingga satu demi satu anak bapak dan emak berhasil menginjakkan kakinya di almamater bergengsi di negeri ini. 
Barisan Pohon Karet



Jadi, tidak salah kiranya jika kami (aku dan keluarga) menyebut pohon ini sebagai pohon kehidupan bukan?
Baiklah, mungkin ada yang belum mengenal pohon karet dan bertanya-tanya mengapa cairan lateks dari pohon ini bisa menghasilkan rupiah?
Pohon karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Tanaman ini memberikan kontribusi besar baik dalam bidang ekonomi maupun ekologi. Dari sisi ekonomi, sejak dahulu karet sudah menjadi sumber penghasilan utama bagi petani pekebun di berbagai wilayah sentra pengembangan karet. Jauh sebelum tanaman sawit menjadi primadona perkebunan, tanaman karet sudah menjadi sumber pendapatan bagi petani pekebun. Bahkan, karet termasuk salah satu komoditi ekspor non migas yang menjadi sumber devisa yang potensial bagi negara ini. Dari sisi ekologi pohon karet adalah komponen ekosistem yang berperan penting menjaga keseimbangan alam.
Pohon karet merupakan jenis tanaman tahunan yang tumbuh meninggi dan memiliki lingkar batang yang cukup besar. Tinggi tanaman dewasa bisa mencapai 15-30 meter. Pohon tumbuh meninggi, lurus dan membentuk percabangan setelah cukup tinggi. Batang tanaman mengandung getah, yang kemudian dikenal dengan istilah lateks. Jika salah satu bagian tanaman dilukai, maka ia akan mengeluarkan cairan putih susu atau lateks ini. Batang merupakan bagian tanaman yang paling banyak mengandung lateks.
Bekas Sadapan

Selanjutnya beralih pada daun. Pohon karet memiliki daun berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning hingga merah setelah tua dan rontok. Uniknya, pohon karet memiliki kebiasaan menggugurkan/merontokkan daun-daunnya pada waktu tertentu. Biasanya terjadi pada musim kemarau untuk mengurangi penguapan. Petani karet menyebut masa itu dengan istilah ‘musim bercukur’. Karena pohon karet benar-benar menjadi gundul seperti orang yang habis bercukur karena merontokkan semua daun-daunnya. Musim bercukur adalah masa-masa paceklik bagi petani karet. Karena produksi lateks otomatis juga menurun.
Secara morfologi, daun karet memiliki tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Daun karet merupakan daun majemuk. Setiap helai daun majemuk terdiri atas tiga anak daun yang berbentuk elips, memanjang dan ujung daun meruncing.
Tanaman karet berkembang biak dengan biji. Biji karet berwarna coklat kehitaman dengan bercak-bercak pola yang khas. Biji terdapat dalam ruang buah yang keras berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi coklat setelah matang. Jika sudah matang ruang buah akan pecah secara alami dan mengeluarkan biji. Biasanya disertai dengan suara khas ‘klik’ yang cukup jelas. Setiap buah karet terdiri atas 3 hingga 6 ruang buah. Masing-masing ruang buah menghasilkan satu biji.
Berbeda dengan tanaman sawit, pohon karet yang dimanfaatkan dalam dunia industri bukan biji atau buahnya. Melainkan getah atau lateks yang keluar dari proses pelukaan pada batang tanaman tersebut. Proses pelukaan pada pohon karet ini dikenal dengan istilah penyadapan. Penyadapan bertujuan untuk membuka pembuluh lateks pada batang pohon karet, sehingga lateks mengalir keluar.
Proses penyadapan tidak bisa dilakukan sembarangan. Melainkan dengan teknik tertentu. Hal ini dimaksudkan agar lateks mengalir banyak langsung dialirkan ke tempat penampungan dan tidak menyebar ke mana-mana. Beberapa jam kemudian, lateks yang terkumpul tersebut akan membeku. 
Oh ya, perlu diketahui lateks ada yang dijual dalam bentuk cair dan ada juga yang dijual dalam bentuk beku (padatan). Orang tuaku dan petani karet di desa kami semuanya menjual lateks dalam bentuk beku. Lateks dalam bentuk beku dikenal juga dengan istilah getah lum.
Lateks

Mengapa lateks atau getah lum laku dijual? Lateks dan getah lum merupakan sumber karet alam yang sangat bermanfaat dalam dunia industri. Ia merupakan bahan baku pembuatan berbagai produk industri seperti ban, sandal, sepatu, isolator dan lain-lain. Sehingga, permintaan akan karet alam ini tetap besar baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor.
Keluargaku memang sangat dekat dengan pohon karet. Mengingat pohon karet bagiku sama dengan mengingat perjuangan keluarga ini. Bagaimana tidak? Sesuap nasi yang masuk ke mulutku dari bayi merupakan hasil dari tetesan cairan lateks yang disadap dengan penuh kesabaran oleh sepasang bidadari. Gelar sarjana yang disandang oleh anak-anak emak dan bapak tidak lepas dari tetesan cairan lateks.
Ya, pohon karet adalah pohon kehidupan. Kehidupan keluarga ini mengalir bersama aliran lateks di dinding-dinding pembuluh tapisnya mengikuti irama sadapan. Terimakasih pohon karet telah mengizinkan tubuhmu dilukai untuk menghidupi keluarga ini. Terimakasih tak terhingga pada sepasang bidadari yang pengorbanan dan kasih sayangnya tiada tara. Semoga Allah melimpahkan hidayah, kesehatan dan kebahagiaan selalu untukmu duhai Ayah dan Ibu.

Merancang Design Pembelajaran

Berhubung Gdrive gagal terus ngunduh data, baik saya posting di sini saja. Belajar bagamana caranya belajar. Demikian materi yang diterim...