Thursday, 30 January 2014

Prinsip 'Ngirit Tapi Bukan Pelit'

 Sreeet....
"Dek, kertasnya jangan dibuang," cegahku ketika Aira bersiap meremas kertas-kertas HVS bekas yang ada didepannya.
"Udah ngak dipake lagi kok kak?" jawab Aira
"Jangan, itu masih bisa dipake, sini untuk kakak aja!"
***
Sebagai mantan anak kos yang dijatah uang bulanan pas-pasan, ngirit sudah menjadi keahlian yang mengakar dan mengkarakter (tssaaaah...istilah opo iki). Selama lima tahun menjadi anak kos, betul-betul harus pandai-pandai ngirit dalam berbagai hal. Agar uang bulanan yang ngepas itu bisa cukup bahkan berlebih.
Tentunya, ngirit bukanlah harus pelit terhadap diri dan orang lain. Ngirit menurutku adalah sebuah seni untuk mengelola setiap potensi yang dimiliki. Salah satu contohnya adalah seperti yang tersirat pada dialog di awal.
Tau kertas HVS kan? Itu lho kertas panjang yang biasa dibuat untuk ngeprin hehe.... Ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk kertas HVS sih, untuk kertas-kertas jenis lain juga berlaku.
Jadi, klo melihat kertas HVS bekas, aku biasanya tidak langsung membuangnya. Biasanya aku kumpulin ditempat khusus. Biar nanti ketika butuh tinggal ambil.
Untuk apa sih HVS bekas?
Mungkin bagi sebagian orang HVS bekas tidak ada gunanya. Tapi bagiku, HVS bekas itu masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatka. Coba deh perhatikan kertas HVS yang sudah digunakan. Rata-rata hanya satu sisi aja yang berisi tulisan atau gambar bukan? Sementara sisi lainnya masih bersih polos. Nah, itu potensi kertas HVS yang belum teroptimalkan. Sisi lain kertas HVS yang masih polos ini biasanya aku gunakan untuk menulis coretan ide, outline, membuat mind mapping dan rancangan tulisan. Selain itu sering juga aku gunakan untuk ngeprint draft tulisan yang mau di edit. Karena ngedit di kertas jauh lebih nyaman dan teliti dari pada ngedit di monitor.
Sayang kan klo ngeprin draft yang akan dicoret-coret di kertas baru hehe.....:)
Yes! inilah cara ngirit tapi bukan pelit :)
Bolak balik penuh nih..
Jika kedua sisi kertas sudah penuh, boleh dong dibuang kertasnya?
Eiiits, jangaaan! Belum kawan, kertas itu belum habis potensinya. Selagi masih ada potensi yang bisa dimanfaatkan dari sebuah barang, barang tersebut belum bisa dibuang. Ini prinsip ngirit tapi bukan pelit pertama. Catat itu yaaa!
Diapain lagi?
Kreatif dong kawan! Yaa...be creative! ini prinsip ngirit bukan pulit kedua. Catat yaaa!
Nah, kertas HVS yang udah penuh bolak balik itu bisa digunakan untuk alat pembungkus. Salah satunya yaitu untuk membungkus barang-barang yang akan disimpan lama. Biasanya aku menggunakan kertas untuk membungkus piring, mangkok, gelas dan sebagainya yang akan disimpan lama agar tidak berdebu. Seperti ini niiih...!

Dibungkus kertas dulu sebelum disimpan

Setelah dibungkus disusun biar rapi
Yes, akhirnya bisa memanfaatkan potensi kertas HVS secara maksimal. Jadi siapa bilang ngirit itu pelit. Justru ngirit adalah salah satu perilaku ramah lingkungan. Karena dengan ngirit kita bisa mengurangi produksi sampah setiap harinya. Dengan ngirit kita bisa menguranngi konsumsi produk. Dan dengan ngirit sudah pasti mengurangi pengeluaran.
Coba deh bayangkan, berapa rim kertas dalam setahun bisa dihemat dengan menerapkan konsep ngiritku ini? Eh tapi aku belum pernah ngitung lho.. jangan tanya balik yaak! :D
***
Ok, jadi prinsipku dalam 'ngirit tapi bukan pelit itu sederhana aja sih:
Pertama: Optimalkan semua potensi yang dimiliki oleh barang-barang yang kita gunakan
Kedua: Yuk kreatif untuk mereuse dan merecycle barang-barang bekas
Ketiga: action dong, jangan cuma wacana! :)

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin

Wednesday, 1 January 2014

#1Day1Ayat: Musibah itu..(QS. Al Baqoroh: 286)


äîi  ätî~fQ p #çBa  äi ätîe   Ú   ätRAp  vã  äBZm  êã [fb} v
änîæ<  Ù  äm  ýîË5ã  p ã   äînî~Bm lã   äîîm;5ãÒî%  v äînîæ<  Ú  #çB&îa  ã
Ùäînîfîç] oi  o};eã 2Q  uî&îfj1 äja   ã=Iã  äînî~fQ  gj2î% v p
Ú  äînîe=ZUã p  Ú   änQ [Qã p  Ù uæ äînîe  Ö]äÊ v äi änîfj2% v p änîæ<
 o}=Zbeã  h  q^îeã ûfQ äm=JmäY  äînîîeqi #m ã   Ú   änj1<ãp
ÄÙßÝ áÕ=^çeãÅ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, jangan Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqoroh: 286).

Untuk kesekian kalinya saya terdiam mengingat perempuan paroh baya itu. Single parent yang memiliki seorang anak berkebutuhan khusus. Anak laki-laki remaja lumpuh layuh tidak bisa jalan, tak bisa bicara hanya berbaring. Semua kebutuhannya harus dibantu mulai dari makan, mandi bahkan cebok.
Jika dipikir-pikir, untuk mengurus anak berkebutuhan khusus ini saja sudah menguras, waktu energi dan emosi. Namun, ternyata tidak itu saja yang harus ditanggung ibu ini. Beliau masih harus mencari rezki sendiri untuk keluarganya. Beruntung dua anaknya yang lain sudah berkeluarga, namun kehidupan mereka juga tidak lebih baik secara ekonomi.
Sesaat saya membandingkan kondisi saya dengannya. Meski bukan orang kaya, tapi hidupku jauh lebih beruntung secara ekonomi. Tidak juga harus merawat anggota dengan kebutuhan khusus. Hanya satu dua hari ini saja harus merawat ortu yang lagi sakit.
Namun karena kelemahan diri, Saya dengan ringannya mengeluh pada Allah.
“Ya Allah, mengapa harus Saya?”
"Musibah ini terlalu berat,"
Ayat di atas seakan menampar kesadaranku. Di mana letak keimananku jika masih juga mengeluh dengan setiap musibah yang dianugerahkan Allah? Bukankah Allah sudah menetapkan segala sesuatu sesuai kadarnya?
Musibah dan ujian adalah cara Allah untuk mendidik hambanya. Ketika Allah memberikan musibah dalam hidup, berarti Allah ingin kita berpikir dan berikhtiar untuk mengatasinya. Sehingga, kita semakin expert dalam hidup ini.
Jadi teringat pesan bijak dari ortu;
“Allah itu tidak akan pernah meletakkan beban pada bahu yang salah. Ketika Allah meletakkan beban di bahu kita, pasti sudah sesuai dengan kekuatan bahu itu untuk memikulnya.”
Ya Allah,
Sungguh saya malu mengingat semua keluh kesah yang pernah tersirat di hati dan terucap di lisan.

#1Day1Ayat: Demi Pena (Qs. Al Qolam : 1)



lpB} äip kf^eãp Ùl

Artinya: “Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al Qolam: 1)

Apakah tulisan saya nantinya bermanfaat bagi yang membacanya? Pertanyaan itu sering kali menghantui perasaan. Terutama ketika awal-awal terjun ke dunia menulis.
Saya terbiasa menulis dari hal-hal sederhana. Pengalaman sederhana yang pernah saya alami dalam hidup. Kisah orang lain yang pernah saya lihat dan saya dengar. Dari sana saya menggali hikmah dan pelajaran menggunakan sudut pandang saya sendiri. Inilah yang kemudian saya olah menjadi tulisan-tulisan inspirasi yang disisipkan dalam setiap buku-buku yang saya tulis.
Terkadang muncul pertanyan dalam diri, “adakah tulisan sederhana itu bermanfaat bagi pembaca?”
Kekhawatiran itu semakin bertambah ketika melihat reaksi orang-orang yang kusodorkan buku-buku karyaku di hadapan mereka. Beberapa kali harus menelan ludah melihat reaksi mereka yang hanya membolak-balik lembaran buku tanpa menunjukkan minat untuk membacanya. Beberapa kali juga saya harus berlapang dada ketika melihat mereka membacanya dengan kening berkerut. Membuat saya kemudian bertanya-tanya, “sebegitu jeleknya kah?”
Namun, kekhawatiran itu seketika sirna ketika menerima beberapa inbox dari para pembaca yang sudah membeli dan membaca buku-buku saya. Testimoni yang mereka berikan tanpa diminta itu, sungguh kembali mampu menguatkan hati saya untuk terus menulis dan menulis. Benar adanya, mendapat pengakuan bahwa apa yang kita tuliskan bermanfaat bagi orang lain itu adalah kepuasan tersendiri dalam menulis sekaligus sumber amunisi untuk membangkitkan kembali semangat menulis.
Yah, terkadang hal sederhana bagi kita, justru itulah yang ditunggu-tunggu oleh orang lain. Mungkin, mereka juga pernah mengalami hal yang sama dalam hidupnya. Namun, terkadang ada hal-hal kecil yang lupa mereka baca dari pengalaman tersebut. Itulah yang kemudian mereka temukan dalam tulisan-tulisan saya. Sehingga, mereka seakan menemukan sesuatu yang hilang dalam tulisan-tulisan itu. Sesuatu yang seharusnya mereka temukan dalam kehidupan mereka, namun karena berbagai hal ‘sesuatu’ tersebut tercecer dan hilang bersama kenangan.
Dari sana kemudian saya kemudian mengerti bahwa, setiap tulisan punya segmen tersendiri. Mungkin tulisan-tulisan saya sangat dibutuhkan oleh si A, namun tidak bagi si B. Mungkin tulisan-tulisan saya menarik menurut selera si A, namun biasa-biasa saja menurut si B.
Saya yakin, setiap tulisan pasti punya takdir masing-masing. Karena, atas izin Allah juga tulisan itu mampu saya tuliskan. Dan, saya yakin Allah juga pasti punya rencana untuk tulisan tersebut.
Sekarang saya mengerti, mengapa Allah bersumpah demi pena dan tulisan yang dihasilkannya pada ayat di atas? Karena Allah ingin menunjukkan betapa pentingnya kedudukan pena (pejuang pena) dan apa yang dihasilkannya (tulisannya).
Pejuang pena adalah penggali ilmu dan inspirasi dari samudera kehidupan. Ilmu, inspirasi dan motivasi yang diperoleh dalam penggalian tersebut adalah mutiara berharga yang dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya. Tidak semua orang yang mampu mendapatkan mutiara langsung dari samudera kehidupan mereka. Karena itu mereka butuh mutiara siap pakai yang sudah dipoles sedemikian rupa oleh pejuang pena dalam bentuk tulisan.
Tulisan adalah sarana bagi kita untuk berbagi. Berbagi ilmu, motivasi dan inspirasi. Jika disampaikan dengan lisan, mungkin hanya sedikit dan sebentar kesempatan bagi orang lain untuk menyerapnya. Namun, ketika kita berusaha untuk menulis maka cakupan dan kesempatan orang lain untuk menyerap isi dari tulisan itu akan semakin besar.
Bagi saya pena adalah senjata untuk mengikat dan menyebarkan ilmu. Kecintaan pada ilmu dan ingin terus berbagi inspirasi melalui pena, itulah yang membuat saya berada di sini. Tersesat dan berbahagia menjelajahi dunia literasi tanpa henti.

*cat: foto-foto menyusul krn keterbatasan kuota inet

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...