Friday, 13 March 2015

Sejenak Mengenang Indahnya Kebersamaan

Waktu berputar begitu cepat. Tanpa peduli apakah kita mengikutinya dengan santai atau terengah-engah. Namun bagaimana pun waktu adalah teman yang akan membawa kita dari masa ke masa. Menemani kita dalam suka dan duka, gelak tawa dan air mata.
Bersama perputaran waktu kebersamaan kita sampai juga pada titik ini. Titik di mana kita diingatkan tentang bilangan waktu yang telah dilewati. Tidak terasa, bilangan waktu itu semakin besar sebagai penanda usia kebersamaan kita.

Apa yang telah kita dapatkan dari kebersamaan ini?
Ayolah sejenak melihat ke belakang jalan setapak yang sudah kita lewati bersama. Begitu banyak kenangan yang sudah kita lukiskan. Ada kenangan indah yang membuat kita tersenyum manis. Ada kenangan pahit yang membuat kita, menghela nafas berat. Semua adalah pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Ambil hikmah dari setiap cerita yang pernah kita lewati bersama.


Sahabat....
Ingatkah kalian, 
Banyak hal yang menghiasi kebersamaan kita. Belajar bersama, makan bersama, bermain bersama, tertawa bersama, bertengkar hebat, bahkan menangis bersama pun pernah kita lalui.
Begitu juga dengan perjalanan yang sudah kita lewati. Blusukan ke berbagai tempat yang selalu menyisakan gelak dan tawa ketika mengingatnya. 



Ingatkah kalian..?
Blusukan ke pasar-pasar besar di inhu sampai kaki penat pernah kita lalui
Blusukan di sawah hingga kehilangan sendal pernah terjadi
Bahkan blusukan mencari makan dan pulang di tengah hujan lebat berangin pun menjadi kisah seru kebersamaan kita.
Dan sekarang adalah momen pertambahan usia kebersamaan kita.
Rencana perayaan jauh-jauh hari sudah kita rancang dengan matang 
Dana dan konsep acara sudah siap, tinggal eksekusi.
Tapi apa yang terjadi?
Hanya tinggal hitungan hari menjelang hari-H
Tiba-tiba..., semuanya buyar hanya karena kesalah pahaman kecil...
Semua berawal dari satu kata yang berkembang menjadi cerita dan berujung fitnah.

Sedih?
Kecewa?
Pasti, tapi semua itu jangan sampai menghancurkan kebersamaan ini. Apa yang terjadi terakhir ini hanyalah sandungan kecil yang menguji kekuatan cinta kita di kelompok ini. Ingatlah, kita pernah melewati sandungan yang jauh lebih besar dari ini. Toh kita tetap bisa melewatinya dengan senyum dan tawa kembali.

Insya Allah hari ini kita tetap kumpul bersama, makan bersama, dan tertawa bersama. Mengumpulkan kembali apa yang terserak, merajut kembali yang sempat terurai dan menyembuhkan kembali jika ada yang terluka. Tidak ada yang buruk, semua akan menjadi pelajaran berharga bagi kita.

Happy Milad Kelompok Dasa Wisma Wanita Kreatif Desa Baturijal Barat. Semoga tetap kompak dalam kebersamaan. :)

Tuesday, 10 March 2015

[Hijabku Karena....] Transformasi Motivasiku Berhijab


Pilihan yang diambil karena manusia, akan lepas juga karena manusia. Pilihan yang diambil karena uang, akan lepas juga karena uang. Pilihan yang diambil karena jabatan yang ingin diraih, akan lepas karena jabatan itu juga. Adapun yang abadi adalah pilihan karena Allah. Sebab Allah tidak akan pernah sedetikpun melepaskan kita dari pengawasan-Nya
Selalu ada hal yang memotivasi kita untuk menjalani sebuah pilihan. Tidak terkecuali pilihan dalam berhijab. Pasti ada hal-hal yang memotivasi kita untuk berhijab. Motivasi tersebutlah yang akan menjadi alasan kita untuk tetap mempertahankan atau melepaskannya kelak.
Aku pertama kali memutuskan berhijab saat duduk di bangku kelas 2 SMU. Bersekolah di sebuah sekolah negeri tidak mengharuskan aku mengenakan busana muslimah yang menutup aurat. Namun, bersyukur di sekolah ini tidak ada larangan bagi para siswi untuk menggunakan seragam yang menutup aurat (hijab). Ketika memutuskan berhijab saat itu pun tidak ada rintangan berarti bagiku, termasuk di lingkungan sekolah.
Meskipun demikian berhijab bagiku bukanlah keputusan yang tiba-tiba. Ada proses panjang yang melatarbelakanginya. Dan yang pasti ada sesuatu yang menjadi motivasiku saat itu. Hingga akhirnya  memutuskan berhijab dan alhamdulillah tetap bertahan hingga hari ini. Motivasiku berhijab pertama memang bukan lillah, bukan karena Allah. Namun, ternyata seiring waktu dan pengetahuan yang dimiliki motivasi berhijab tersebut mengalami perubahan (transformasi). Seperti apa transformasi motivasi saya dalam berhijab? Inilah yang ingin saya bagi dalam tulisan ini.

Hijabku Karena Pujian yang Tulus dari Sang Idola
Jujur, motivasiku berhijab pertama kali saat masih duduk di kelas 2 SMU adalah karena pujian yang tulus dari seorang guru yang sangat saya idolakan (tutup muka).Sebenarnya aku senang dan hormat dengan semua guru yang pernah mengajariku. Seperti apapun karakter mereka. Karena bagiku guru adalah sosok yang telah menyembuhkan kebutaanku terhadap ilmu yang mereka ajarkan. Namun, ibu guru yang satu ini bagiku sangat istimewa. Selain karena aku senang dengan pelajaran yang beliau ajarkan, beliau juga cantik, memiliki senyum yang lembut dan berhijab. Ya, berhijab sempurna, sesuatu yang jarang aku temui pada guru-guru wanita yang mengajar di sekolah negeri pada masa itu.
Waktu itu hari jum'at, di mana seluruh siswa dan guru diwajibkan mengenakan baju melayu. Baju melayu bagi wanita adalah baju kurung panjang tanpa kerudung. Namun, tidak ada larangan jika para siswi menggunakan kerudung saat mengenakan baju melayu tersebut. Saat itu aku mengenakan baju kurung melayu lengkap dengan kerudung seadanya saat mengumpulkan tugas di meja ibu guru cantik tersebut. Beliau menegurku dengan senyum manisnya yang khas,
"Tu kan tampak lebih cantik pake kerudung, coba dipake terus pasti lebih cantik," puji beiau dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Aku cuma tersenyum menanggapi pujian beliau. 
Tapi siapa sangka pujian tersebut melekat begitu kuat dalam hati dan pikiranku. Meski belum memahami dengan baik esensi berhijab, keinginan untuk menutub aurat perlahan namun pasti terus tumbuh dalam hatiku. Sampai, beberapa bulan kemudian berbekal uang beasiswa, aku membuat seragam baru lengkap dengan kerudungnya. Dan pas tahun ajaran baru aku datang ke sekolah dengan seragam baru yang menutup aurat.

Hijabku Karena Ilmu 
Waktu selalu mengaajarkan dan membersamai kita untuk berproses menjalani hidup. Perjalanan waktu akhirnya membawaku pada lingkaran ilmu beraroma surga. Di lingkaran itu setiap pekan aku dan para pecinta ilmu mengkaji ayat-ayat Allah. Rutinitas indah yang membuka mataku tentang syariat islam yang sesungguhnya.
Di lingkaran ilmu inilah aku kemudian dipertemukan dengan sebuah ayat Al quran tentang kewajiban berhijab bagi setiap muslimah.
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang (QS. Al Ahzab: 59)
Sebelumnya aku memandang bahwa hijab hanya sekedar pakaian penutup tubuh. Tak ubahnya pakaian lain dengan berbagai model. Boleh dikenakan jika suka, dan bisa dilepas ketika kita tidak suka.
Ternyata salah! Ya, SANGAT SALAH!
Dari lingkaran ilmu aku mengetahui bahwa hijab adalah busana muslimah yang WAJIB dikenakan oleh setiap muslimah. Dasarnya adalah firman Allah dalam Al quran surat Al ahzab ayat 59 di atas. Ya, perintah ini langsung dari Allah. Perintahnya sangat jelas untuk seluruh muslimah, bukan hanya istri-istri nabi. Dalam ayat ini juga dijelaskan tentang kriteria hijab syar'i yang harus dipenuhi.  Jadi, tidak asal berhijab.
Dari majlis ilmu lingkaran beraroma surga itu, motivasi saya berhijab mulai mengalami transformasi. Tidak lagi karena pengaruh pujian dari sang idola. Tetapi karena ilmu yang membuka mata hatiku bahwa ini adalah kewajiban. Ini adalah perintah Allah. Sebagai seorang muslimah aku harus berikhtiar untuk mengamalkannya.

Hijabku Karena Cinta
Waktu masih setia membersamaiku dalam menjalani setiap proses dalam hidup. Waktu juga menjadi saksi bahwa aku masih istiqomah dengan hijab syar'i. Bertahun-tahun bertahan dalam balutan hijab syar'i aku merasakan indahnya menjadi seorang muslimah. Hijab sudah menjadi identitas yang tidak bisa lepas dari diri. Hijab yang membuatku mudah dikenal sebagai seorang muslimah. Hijab yang membuatku semakin cinta pada islam. Hijab juga yang membuatku semakin cinta pada Allah yang sudah mensyariatkan-nya pada setiap muslimah.
Jika sekarang ditanya apa motivasiku berhijab? Maka jawabanku hanya satu yakni CINTA. Ya, cintaku pada Allah Tuhan yang telah memuliakanku dengan syariat islam. Cintaku pada islam agama yang sempurna dan sangat memuliakan wanita. Dan cintaku pada Rasul yang telah menuntun umat-nya ke jalan yang diridhoi-Nya.
Inilah transformasi motivasiku dalam berhijab. Bagaiman dengan motivasi berhijabmu?

Artikel ini diikutsertakan  dalam "Hijab Syar'i Story Giveaway" 

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...