Thursday, 21 July 2016

Cara Menyisipkan Halaman Landscape Diantara Halaman Portrait pada Dokumen Word

Coba perhatikan layout halaman pada dokumen word! Pada umumnya layuot halaman word itu seragam dari awal sampai akhir kan? Jika di awal kita setting landscape maka layout halaman sampai akhir akan tetap landscape. Dan sebaliknya, jika kita setting portrait maka sampai akhir halaman word itu akan tetap dalam layout portrait. 
Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat dokumen dengan layout yang berbeda dalam satu file word? Misalnya nih, di halaman awal kita menulis dokumen dengan layout portrait. Namun ketika sampai di halaman berikutnya kita harus membuat dokumen dengan layout landscape, karena berisi tabel yang memanjang ke samping misalnya. Apakah bisa disusun dalam satu file yang sama? Ataukah kita harus membuat file khusus untuk halaman yang berlayout lanscape ini?
Tentu saja bisa!
Sahabat pembaca, setting default dokumen word memang seragam dari awal sampai akhir. Namun, jika kita ingin membuat dokumen dengan layout portrait dan landscape secara bergantian juga bisa. Bagaimana caranya? Nah, berikut saya akan berbagi informasi tentang cara menyisipkan halaman landscape diantara halaman portrait pada dokumen word yang saya ketahui:
  • ·         Buka dokumen word yang ingin kita kerjakan sebagaimana biasa,
                Klik Page Layout
Page Layout

  •  ·         Letakkan krusor pada halaman akhir atau halaman sebelum halaman yang akan dibuat dengan layout berbeda. Kemudian pada page layout pilih option Breaks, selanjutnya pada section breaks pilih next page.
Section Breaks
  • ·         Pindahkan krusor pada halaman baru yang muncul. Halaman ini yang akan kita ubah orientasi layoutnya dari portrait menjadi lanscape. Untuk mengubah orientasi layout halaman klik Orientation kemudian pilih Landscape.
Orientation
  • ·         Nah, sekarang coba cek dokumen word yang sahabat kerjakan. Apakah layout halamannya sudah berubah seperti yang diinginkan. Gambar berikut adalah salah satu contoh halaman landscape setelah halaman portrait dalam satu file dokumen word.

Halaman Landscape pada Next Page Sudah Jadi
Jadi, sekarang tidak perlu bingung lagi jika ingin menyusun dokumen dengan halaman yang berbeda-beda layoutnya. Sahabat juga tidak perlu membuat dokumen itu dalam file yang berbeda. Cukup sisipkan saja halaman yang berbeda layoutnya tersebut dalam dokumen word yang sedang dikerjakan dengan cara di atas. Gampang kan? Selamat mencoba!

Tuesday, 19 July 2016

15 Menit Menulis Bebas Setiap Hari


Source: http://www.annida-online.com
Sahabat pembaca, pasca lebaran saya bertekad dalam hati untuk kembali memperbaiki manajemen waktu menulis. Saya sadar, sekarang banyak amanah lain yang disampirkan di pundak ini. Mulai dari amanah pekerjaan di PKH, amanah-amanah lain di masyarakat, hingga tugas-tugas rutin di rumah. Meskipun demikian, saya ingin tetap menulis tanpa harus mengabaikan amanah yang ada.

Untuk menjaga semangat menulis saya menetapkan sebuah resolusi pagi ini. Apa resolusi itu? Yakni ’15 Menit Menulis Bebas Setiap Hari’.

Source: http://4muda.com
Saya berharap dengan resolusi ini saya konsisten menulis setiap hari, minimal 15 menit. Setiap hari saya mewajib diri untuk menulis bebas selama 15 menit, tanpa diedit. Menulis bebas apa saja yang ada dalam pikiran saya saat itu. Kalau mentok tidak ada ide, saya harus bisa memaksa tangan saya untuk menuliskan apa saja yang saya rasakan saat itu. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis karena tidak ada ide. Saya harus menciptakan ide itu sendiri dalam pikiran saya. Semua hal yang saya lihat, dengar dan rasakan harus bisa menjadi ide untuk menulis bebas.

Saya menetapkan waktu menulis bebas ini adalah di pagi hari ba’da sholat subuh. Waktu subuh menurut saya adalah waktu yang efektif untuk menulis. Karena pikiran masih segar setelah beristirahat panjang malamnya. Selain itu, suasananya juga tenang, jauh dari gangguan, bebas dari keributan dan suara televisi yang mengganggu. Sehingga saya bisa menulis dengan fokus.

Nah, sahabat pembaca inilah resolusi menulis saya pasca lebaran ini. Sederhana saja, hanya ingin membiasakan diri menulis bebas 15 menit setiap hari. Semoga, resolusi sederhana ini bisa saya jalankan dan memberikan manfaat positif bagi diri. Terutama untuk meenjaga konsistensi saya dalam menulis. Nah, bagaimana dengan kamu sahabat? Apa resolusimu pasca lebaran ini?

Wednesday, 13 July 2016

Merekam Jejak Pengabdian dengan Kamera Ponsel

GA Aku dan Kamera Ponsel


“Ibu-ibu, seperti biasa sebelum bubar kita foto bareng dulu ya!”
Sejenak ruangan riuh oleh suara ibu-ibu yang hadir. Masing-masing berebut mencari posisi dan saling mengatur posisi temannya. Sementara aku mengeluarkan HP jadul dari dalam saku tas kerja. Kemudian meminta tolong pada seorang teman untuk mengambilkan foto kami. Dan, tidak butuh waktu lama, cekrek..., cekrek..., cekrek..., yes! Sesi foto bersama yang heboh itu pun sukses.
Serunya Sesi Foto Bersama

Begitulah keseruan pertemuan bulanan kelompok ibu-ibu dari peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Di sini aku bertindak sebagai pendamping program ini. Sebagai pendamping PKH, setiap bulan aku wajib mengadakan pertemuan rutin dengan ibu-ibu peserta PKH ini. Dalam pertemuan kelompok ini ada beberapa agenda yang dilakukan seperti pemuktahiran data peserta, evaluasi, dan pembinaan terhadap peserta PKH. Dan, sesi yang paling heboh dari pertemuan tersebut tentu saja sesi foto bersama. Meski sepanjang pertemuan tetap ada pengambilan foto untuk dokumentasi kegiatan. Namun tetap saja sesi foto bersama menjadi sesi yang paling heboh, walau Cuma menggunakan kamera ponsel jadul.
Di lain kesempatan,
“Maaf bu, minta izin nanti rekan saya mengambil foto pertemuan kita ini ya!” pintaku pada Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesehatan saat berkunjung untuk melakukan koordinasi kesiapan UPTD Kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada keluarga peserta PKH.
“Oh ya, silakan saja,” jawab beliau ramah.
Dalam pertemuan formal itu, kamera ponsel tetap menjadi andalanku untuk mengambil foto-foto dokumentasi kegiatan.
Koordinasi dengan Ka. UPTD Kesehatan

Demikian juga ketika berkunjung ke rumah keluarga peserta PKH. Aku berusaha untuk meminta izin pada mereka untuk mengambil foto. Baik foto anggota keluarga maupun kondisi rumah dan lingkungan mereka sebagai bahan laporan. Pada umumnya, ibu-ibu peserta PKH ini dengan senang hati mempersilahkan kami mengambil foto. Tentu saja tetap dengan mengandalkan kamera ponsel kesayanganku.
Kunjungan ke Rumah Peserta PKH


Bukan Sekedar Ingin Eksis
Kubuka lagi galery foto di ponsel jadul yang telah menemaniku sejak tahun 2010. Satu demi satu foto hasil jepretan menghiasi layar ponsel. Setelah diamati hampir 90% isi galery foto di ponselku adalah foto-foto dokumentasi kegiatan sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
 
Proses Penyaluran Bantuan
Ya, kamera ponsel bagiku merupakan salah satu perangkat penting untuk menunjang pekerjaan. Khususnya untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan yang aku lakukan sebagai pendamping program keluarga harapan. Mulai dari kegiatan koordinasi dengan berbagai stakeholder di wilayah kerja, kegiatan pertemuan kelompok, kunjungan ke rumah Keluarga Sangat Miskin Peserta PKH, kunjungan ke fasilitas kesehatan, kunjungan ke fasilitas pendidikan, hingga proses penyaluran bantuan untuk KSM peserta PKH. Semua kegiatan pendampingan itu wajib didokumentasikan dalam bentuk foto-foto yang nantinya menjadi bahan penunjang laporan kerja bulanan.

Pertemuan Kelompok

Sejauh ini aku lebih nyaman menggunakan kamera ponsel untuk keperluan dokumentasi tersebut. Paling tidak ada tiga alasan mengapa aku lebih nyaman menggunakan kamera ponsel:
Pertama: Lebih Praktis
Sebagai pendamping PKH, aku dituntut untuk selalu mobile. Berkunjung dari kelompok binaan satu ke kelompok binaan yang lain setiap bulannya. Selain itu juga harus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait di wilayah kerja yang luas. Dan, setiap kegiatan itu harus ada dokumentasinya. Sehingga, mau tidak mau kamera harus selalu ada dalam tas. Terbayang dong repotnya kalo kamera canggih seperti kamera DSLR harus dibawa kemana-mana? Isi tas tentunya akan semakin banyak dan berat. Nah, dengan kamera ponsel semua itu menjadi lebih praktis. Aku ngak perlu menambah beban, karena memang ponsel selalu dibawa, ya kan?
Kedua: Kualitas Foto Lumayan Bagus
Kualitas foto dari kamera ponsel memang tidak sebagus kamera canggih, tapi lumayan bagus kok. Untuk keperluan laporan, kualitas foto dari kamera ponsel sudah lebih dari cukup. Gambar yang dihasilkan cukup bersih dan bisa diandalkan.
Ketiga: Lebih Ekonomis
Lebih ekonomis pastinya, karena aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kamera khusus. Cukup menggunakan kamera dari telpon seluler yang ada. Kalau harus membeli kamera khusus, kebayang dong berapa duit yang harus dikeluarkan?

Kembali kulirik galery foto ponsel jadul yang tangguh itu sambil mengguman, “foto-foto yang menghiasi galery ini bukanlah foto-foto narsis, bukan pula foto untuk tampil eksis di sosmed. Melainkan, bagian dari rekam jejak pengabdianku sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan, salah satu ujung tombak pengentasan kemiskinan di negeri ini.”

Ponsel Impian untuk Menunjang Kegiatan Pengabdian
Hingga saat ini, aku masih mengandalkan kamera ponsel untuk kegiatan dokumentasi kerja sebagai pendamping PKH. Aku sangat bersyukur dengan keberadaan ponsel jadul yang telah menemaniku selama enam tahun ini. Banyak sudah kegiatan dan jejak pengabdian yang terekam dalam memori ponsel ini.
Namun, sebagai manusia aku tentunya juga ingin memperbaharui perangkat yang digunakan. Tidak mungkin juga kan aku terus menerus mengandalkan ponsel jadul ini. Ponsel keluaran lama pastinya memiliki banyak keterbatasan dibandingkan keluaran baru. Contoh sederhananya saja, resolusi kamera yang rendah. Beda jauh ponsel keluaran terbaru yang umumnya dilengkapi dengan kamera ponsel berkualitas tinggi hingga 13 MP
Oleh karena itu, jika ada rezki dan peluang saya sangat berharap bisa memiliki ponsel baru untuk menunjang kegiatan pengabdian di masyarakat. Salah satu ponsel keluaran terbaru yang saya taksir saat ini adalah Asus ZenFone 2 Laser ZE550KL. 
Asus Zenfone 2 laser

Mengapa harus Asus ZenFone 2 Laser ZE550KL? Alasanku memilih ZenFone 2 Laser ZE550KL sederhana saja, yakni kualitas kamera ponselnya yang bagus. Dari website resmi Asus saya menemukan beberapa keunggulan kamera ponsel Asus, yaitu:

  • Mampu mengambil foto indah dengan resolusi tinggi karena pada ponsel ini ditanamkan kamera PixelMaster 13MP dengan apertur lensa f/2.0.
  • Kamera belakang Zenfone 2 laser dilengkapi dengan teknologi otofokus laser sehingga mampu menghasilkan gambar yang lebih jernih.
  • Dilengkapi dengan Mode Backlight (Super HDR) yang memungkinkan pengguna melihat dengan jelas di bawah terik matahari
  • Dan kamera ponsel Zenfone 2 laser juga dilengkapi dengan mode Super Resolution. Mode ini memungkinkan pengguna mengambil foto dengan detail yang tinggi.

Tentunya tidak hanya kualitas kamera super saja yang menjadi keunggulan ponsel satu ini. Masih banyak lagi keunggulan lain yang dimiliki oleh smartphone keluaran terbaru ini. Namun bagiku, kualitas kamera ponsel yang ciamik ini sudah cukup menjadi alasan mengapa saya sangat ingin memiliki ZenFone 2 Laser (ZE550KL) ini untuk menunjang tugas-tugas pengabdian masyarakat. Adapun kelebihan-kelebihan lainnya adalah bonus ekstra :)


'Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com'.

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...